Thursday, February 20, 2014
a Human Love Short Story
Seperti sudah TERIKAT, TERKAIT, SUSAH UNTUK DILEPAS.
Seperti sudah tertancap terlalu dalam sehingga jika kau mengambilnya (paksa), akan sangat terasa sakit.
Namun takdir seperti tak bersahabat.
Ketika mungkin tak ada pilihan terbaik selain berjalan sendiri - sendiri.
Bukan karena sudah tak ada cinta, tapi karena ada tembok besar yang siap kapanpun memisahkan.
Ketika melangkah untuk maju adalah pilihan yang salah
Ketika mundur pun juga sudah tak bisa.
Maka pilihan yang ada hanya menunggu.
Menunggu keajaiban.
Menunggu dalam ketidakpastian.
Namun siapa yang mau hidup berlama - lama dalam ketidakpastian.
Dalam tekanan, dalam ketidaktentraman hati.
Dan ketika pilihan yang terbaik adalah berpisah.
Bukan tanpa beban ketika aku mengatakan "berpisah adalah pilihan yang terbaik"
Pilihan yang terbaik memang tidak selalu bisa diterima dengan baik.
Tapi semoga pilihan terbaik ini tak melukai lebih dalam, baik hatiku dan hatimu.
Ya Allah...sungguh ini berat. Sangat berat.
Jika memang tak ditakdirkan untuk bersama, maka sertakan ikhlas di hati kami.
Aku mencintaiMu ya Allah...maka aku memilih untuk melepasnya.
Semoga Engkau me-ridhai jalan yang kami pilih.
Semoga Engkau memberi pengganti yang terbaik untuk kami berdua.
Aamiin ya Rabbal 'alamiin....
Semarang, 20 Februari 2014
@airinamalia
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment