EXPERIENCES (FAILURE) MAKE YOU STRONG
Setiap
orang pasti pernah merasakan kegagalan. Entah itu gagal seleksi masuk ke
sekolah atau kampus favorite, gagal dapat kerja, gagal memenangkan sebuah kompetisi,
gagal dapat nilai 100 hahaha… ya gagal apapun lah…dan rasanya ga enak banget.
Kecewa, sedih, bete, bahkan ada yang marah – marah dan ga bisa menerima
kenyataan… *kalau yang terakhir itu jangan ditiru lah yaa.
Kali
ini saya akan membahas mengenai kegagalan mendapatkan beasiswa. Oke, saya ingin
sedikit menceritakan pengalaman (pahit) saya dalam meraih beasiswa selama ini.
Well,
buat saya yang hanya seorang mahasiswi biasa di salah satu universitas negeri
di kota Semarang, wajar lah kalau saya ingin sekali mendapatkan beasiswa.
Selain ingin meringankan beban orang tua, saya juga ingin membanggakan orang
tua dan keluarga saya kalau saya mampu mendapat beasiswa. Terdengar klise
memang, tapi memang begitu adanya. Saya anak pertama dari 3 bersaudara, bisa
kalian bayangkan, ada beban di diri saya untuk bisa membantu orang tua
walaupun tak seberapa nilainya. *kok malah curhat…
Back
to the topic: Scholarship.
Ya,
awal cerita dimulai saat saya memasuki kuliah semester 2. Saya mulai sering
mencari – cari info beasiswa baik yang diberikan oleh kampus maupun dari luar
kampus. Dan saat itu saya pun menemukan tentang info mengenai beasiswa PPA dan
BBM. Di setiap kampus di Indonesia pasti ada beasiswa semacam PPA (Peningkatan Prestasi
Akademik) dan BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa). Intinya kalau beasiswa PPA itu
untuk mereka yang berprestasi dan aktif berorganisasi sedang beasiswa BBM lebih
ditujukan untuk mereka yang kurang mampu secara finansial. Dan biasanya
pendaftaran beasiswa ini dibuka antara bulan Februari – Maret atau akhir
semester ganjil, dan syaratnya minimal adalah semester 3. Singkat cerita,
setelah menunggu dua semester untuk bisa meng-apply beasiswa PPA ini, saya pun
langsung mendaftar. Pendaftaran saat itu online, hanya mengisi biodata diri,
pekerjaan dan penghasilan orang tua, IP & IPK, keaktifan organisasi, serta
prestasi yang pernah didapat. Done. Saya pun kemudian menunggu hasilnya, dan
saat hari pengumuman tiba, saya pun dinyatakan gagal alias ga lolos. Okay, saat
itu saya masih belum terlalu kecewa.. saya masih berpikir positif bahwa banyak
yang lebih pantas dan berprestasi dibanding saya.
Next,
saat itu tahun 2012 awal April. Ada pengumuman Beasiswa Djarum. Beasiswa Djarum
ini cukup bergengsi di Indonesia. Tanpa ragu, saat itu setelah melengkapi
persyaratan yang dibutuhkan, saya pun mendaftar beasiswa Djarum. Sungguh saat
itu saya benar – benar sangat berharap bisa menerima beasiswa itu, karena
selain akan mendapat beasiswa berupa fresh
money setiap bulannya, nantinya para
penerima beasiswa juga akan sering mendapatkan pelatihan leadership dan pengembangan soft
skills. Tapi tapiii…kenyataan berkata lain, setelah ikut Tes Potensi Akademik (TPA) kemudian langsung pengumuman, saya dinyatakan tidak lolos. Kecewa.
Kemudian
di akhir semester 4, saat liburan saya mencoba nge-apply Internship Program yang diadain pemerintah Jepang. Saya mengurus ini
itu, ya nyiapin CV, transkrip nilai dan essay, saya kirim via email. Dan
sekitar 2 bulan kemudian dapat balesan, daaaaan sekali lagi, saya tidak masuk
daftar peserta yang lolos. Ah….
Masih
belum kapok untuk mendaftar beasiswa PPA, di akhir semester 5 pun saya kembali
mendaftar beasiswa PPA, dan hasilnya nihil. Gagal. Padahal saya sudah cukup yakin akan lolos karena saat itu IP dan IPK saya cumlaude. Sempet sebel juga sih,
padahal banyak temen seangkatan yang lolos beasiswa itu, soalnya mungkin kuota
paling banyak kan diberikan buat mereka yang semester 5. Dan ini kesempatan
banget, eh malah masih gagal.
Kemudian,
saat kemarin semester 6, saya juga sempat meng-apply beasiswa BCA Finance.
Saat itu pendaftarannya online, tahap awal hanya mengisi formulir, antara lain menyebutkan IP terakhir, penghasilan orang
tua, prestasi dan keaktifan organisasi. 3 bulan kemudian pengumuman tiba, dan
hasilnya pun negative. Hiks.
Yang
terakhir ini, saya mencoba mendaftar program internship juga namanya SUSI
Programs yang diadain pemerintah Amerika. Syaratnya saat itu, menyerahkan CV,
transkrip nilai dan essay dan tentunya menggunakan bahasa Inggris. Namun hasilnya masih
gagal juga. Hahahahaha… Bukan jodohnya.
Well, I
think that’s all my story… Intinya, jangan cepat menyerah. Kegagalan memang
seringkali menyakitkan, namun kita harus bisa belajar dari kegagalan itu,
jadikan penyemangat untuk bisa lebih baik lagi. Terus belajar dan belajar. Serta jangan lupa berdoa sama
Yang Maha Kuasa, Allah Swt.
If
there is a will, there is a way..insya Allah.
FYI:
Dalam waktu dekat ini, rencananya saya ingin mendaftar beasiswa AAS/ADS. Doakan saya cepat
lulus biar bisa mendaftar beasiswa ini ya.. Wish me luck!
Bismillah…
Semarang,
14 February 2014
Amaliah Khairina


0 comments:
Post a Comment